BPD GSJA DKI Jakarta mengucapkan: Selamat Tahun Baru 2013.
Tampilkan postingan dengan label PENA BPD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENA BPD. Tampilkan semua postingan
Selasa, 01 Januari 2013
Senin, 24 Desember 2012
Selamat Hari Natal 25 Desember 2012
Diposting oleh
Iwan Siahaan
di
Senin, Desember 24, 2012
Badan Pengurus Daerah
GSJA DKI Jakarta
mengucapkan:
Selamat Hari Natal 25 Desember 2012
Kemuliaan bagi Allah, Damai di bumi
GSJA DKI Jakarta
mengucapkan:
Selamat Hari Natal 25 Desember 2012
Kemuliaan bagi Allah, Damai di bumi
Selasa, 02 Oktober 2012
JOKOWI: PEMIMPIN YANG MERAKYAT
Diposting oleh
Iwan Siahaan
di
Selasa, Oktober 02, 2012
Sesuai jadwal dari KPUD DKI, tanggal 7 Oktober 2012 adalah hari pelantikan Gubernur – Wakil Gubernur terpilih. Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta putaran 2 yang berlangsung 20 September 2012 lalu telah dimenangkan oleh pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Mereka berhasil mengalahkan pasangan petahana Fauzi Bowo (Foke) dan Nachrowi Ramli (Nara). Jokowi yang merupakan Walikota Solo telah mengajukan pengunduran dirinya ke DPRD kota Solo dan telah diterima. Setelah ditandatangani oleh Mendagri, maka tidak ada lagi ganjalan bagi Jokowi untuk dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta 2012 -2017.Kemenangan Jokowi – Ahok terasa sangat fenomenal. Di putaran pertama, pasangan ini meraih sekitar 43% suara dan mengalahkan 5 pasangan lainnya termasuk pasangan petahana. Memasuki persiapan selesai putaran pertama, seluruh partai lainnya yang jagoan mereka kalah bersatu mendukung pasangan petahana untuk mengeroyok pasangan Jokowi Ahok. Lucunya, dalam kampanye mereka di putaran pertama, para jagoan (yang telah kalah di putaran 1) seakan-akan bersatu menyerang pasangan petahana sebagai pasangan yang “gagal” memimpin dan membangun kota Jakarta. Di putaran kedua mereka justru “bersatu” mendukung pasangan petahana menyerang Jokowi Ahok. Di tengah “keroyokan” para elit partai didukung mesin partai yang bersatu, pasangan Jokowi Ahok berhasil memenangkan pemilihan putaran kedua dengan margin sekitar 6%. Koalisi Jokowi Ahok dengan rakyat justru berhasil mengalahkan “Koalisi Elit dan Partai Politik” yang mendukung Foke Nara. Ketika Quick Count mencapai sekitar 90%, dengan ksatria Foke menelepon Jokowi mengucapkan selamat atas kemenangannya.
Ada banyak analisa para pakar yang mencoba “menggali” alasan kesuksesan Jokowi Ahok. Tidak bisa dipungkiri, salah satu alasan utama menurut saya adalah kerinduan rakyat Jakarta untuk melihat perubahan & transformasi terjadi di kota Jakarta. Rakyat Jakarta sudah sangat kesal dengan kemacetan yang terjadi tiap hari, bahkan hingga malam hari. Masyarakat juga bosan dengan banjir yang hampir selalu melanda kota ini terutama saat musim hujan. Belum lagi masalah sampah, daerah kumuh & miskin juga masalah kekerasan & kriminalitas yang memprihatinkan. Rakyat Jakarta merindukan perubahan, dan mereka menilai Jokowi sebagai figur yang dapat diharapkan untuk menciptakan perubahan tersebut. Kemampuan Jokowi sebagai Walikota Solo yang berhasil mentransformasi kota tersebut sehingga dinobatkan sebagai salah satu dari 25 Walikkota terbaik di dunia menjadi satu alasan bahwa ia memiliki kapabilitas yang “sangat mumpuni” untuk merubah kota Jakarta. Tentu masih banyak alasan-alasan lainnya, tetapi beberapa beberapa pakar menilai faktor karakter justru menjadi pembeda Jokowi. Karakter Jokowi yang sederhana, merakyat dan penuh integritas justru yang dicari dan dicintai rakyat Jakarta sehingga memberikan dukungan padanya.
Jokowi adalah seorang yang sederhana. Sekalipun memiliki latar belakang pengusaha yang sukses yang kaya, Jokowi tetap hidup dalam kesahajaannya. Ia mampu makan di restoran mahal manapun tetapi ia terbiasa menikmati makanan di warung sederhana. Jokowi tidak pernah canggung membeli & makan gorengan dari penjual gorengan pinggir jalan. Ia biasa naik kendaraan umum jika bepergian, sebaliknya sebagai Walikota ia menolak kendaraannya dibuka oleh Voorijder. Jokowi bahkan berjanji tetap bertindak demikan ketika menjad Gubernur DKI. Jokowi tidak pernah canggung masuk dari satu rumah ke rumah, dari satu desa ke desa, dari satu pasar ke pasar lainnya untuk bertemu dan berbincang-bincang dengan rakyatnya. Ia terbiasa mendengar keluhan rakyatnya secara langsung, tidak birokratis. Jokowi bukanlah orang yang terbiasa dilayani, ia adalah seorang pelayan sederhana yang melayani. Jokowi menolak anggaran Rp. 1,2 milyard yang dipersiapkan DPRD DKI untuk biaya pembuatan pidato Gubernur dan Wakil Gubernur. Ia juga mengurangi biaya pelantikannya dengan menolak mendatangkan artis terkenal yang berbiaya mahal. Ia menganggap hal-hal tersebut sebagai pemborosan yang tidak perlu. Masih banyak hal lain yang dikerjakannya dalam kesederhanaannya.
Jokowi juga dikenal sebagai orang yang merakyat. Ia bukan saja bersimpati dengan rakyat, malahan ia berempati penuh dengan rakyatnya. Ia berusaha mengidentikkan penderitaan rakyat dengan dirinya. Latar belakang hidupnya yang berasal dari masyarakat miskin membuatnya senang “sependeritaan” dengan rakyat yang hidup susah. Jokowi adalah pemimpin yang Pro Rakyat. Ia tidak mengutamakan membangun mal yang memberikan citra “mewah” dan dapat mendatangkan lebih banyak “keuntungan”. Sebaliknya ia membangun pasar-pasar tradisional dan menjadikannya modern. Tidak pernah Jokowi menggusur rakyat demi pembangunan kota yang dikerjakannya, sebaliknya ia menggunakan pendekatan kemanusiaan untuk mendekati rakyatnya. Pernah ia mengajak makan para pedagang lebih dari 50 kali hanya untuk memahami perasaan mereka tanpa melakukan tindakan apapun. Ia membangun perumahan bagi masyarakat miskin. Ia juga memberikan sertifikat milik kepada rakyatnya, sesuatu yang sukar dimiliki rakyat kebanyakan. Jokowi bahkan tidak segan-segan memecat PNS yang mempersulit rakyat dalam mendapatkan pelayanan dari pemerintah. Jokowi juga menolak mengambil gajinya sebagai Walikota karena menurutnya dengan penghasilannya sebagai pengusaha keluarganya sudah hidup layak. Selain itu, menurutnya tidak pantas Walikota hidup nikmat dengan uang rakyat sedangkan rakyatnya masih banyak yang hidup susah. Singkat kata, Jokowi berusaha sungguh-sungguh dapat melaksanakan AMPERA (Amanat Penderitaan Rakyat) karena ia memahami keberadaanya sebagai pemimpin adalah untuk membawa kemajuan dan kemakmuran bagi rakyat. Memimpin adalah untuk melayani, bukan untuk dilayani.
Salah satu karakter positif Jokowi lainnya adalah integritasnya. Ia terbiasa untuk jujur dan apa adanya. APBD kota Solo & penggunaannya disampaikannya secara transparan kepada masyarakat. Ia merasa tidak perlu menutup-nutupi sesuatu. Apa yang dikatakan sesuai dengan apa yang dibuatnya, demikian sebaliknya. Ketika ia turun ke bawah menjumpai rakyatnya, ia memang biasa melakukannya bukan hanya demi kampanye saja. Ketika ia makan tempe goreng di pinggir jalan, demikianlah dirinya dan bukan semata-mata demi pencitraan belaka. Ia pekerja keras yang senantiasa terbuka untuk dinilai orang lain karena dirinya sama di dalam dan di luar.
Bagaimana dengan teladan dari Guru Agung dan Tuhan kita Yesus Kristus? Filipi 2:6-7 menuliskan “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan dirinya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”. Yesus, Tuhan yang mulia, tidak datang ke dalam dunia dalam kemuliaan-Nya. Ia datang dalam segala kesederhanaan sekalipun malaikat tunduk menyembah-Nya. Ia lahir di kandang domba pinjaman. Ia melayani dengan tidak memiliki “tempat untuk meletakkan kepalanya”. Ia tidak memiliki emas dan perak, keledai apalagi kereka kuda pribadi sekalipun diri-Nya adalah Raja di atas segala raja. Ia mati dan dimakamkan juga di makam pinjaman sekalipun Ia adalah Sang Pencipta alam semesta. Yesus adalah Juru Selamat manusia yang hidup dengan sederhana.
Mengapa Yesus bersedia menjadi manusia bahkan mati di kayu salib? Tentu karena kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia. Tetapi mengapa Ia bersedia mengasihi manusia sedemikian rupa? Karena Yesus berempati & dapat merasakan penderitaan manusia dalam dosa. Ibrani 4:15 menuliskan “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa”. Ketika hidup sebagai manusia, Yesus telah merasakan semua penderitaan manusia sehingga Ia dapat berempati dengan manusia dan hidup “merakyat” sama dengan manusia biasa. Ia tidak memberi jarak dengan manusia sebaliknya Ia benar-benar hidup sama dengan manusia hanya tidak berbuat dosa.
Yesus menjalani kehidupan-Nya di muka bumi dengan penuh kejujuran dan integritas. I Petrus 2:22 menuliskan “Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya”. Ini merupakan penggenapan Yesaya 53:9 “orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya”. Integritas Yesus sangat jelas, Ia hidup apa adanya, bahkan Ia rela berkorban demi kejujuran dan integritas-Nya. Yesus adalah teladan Agung orang Percaya.
Seperti apa kehidupan Hamba-hamba Tuhan? Saat ini ada “Sindrom Selebritis” yang sedang melanda banyak Hamba Tuhan. Merasa sebagai Pelayan Tuhan yang diurapi, hebat, penuh kuasa, karunia dan mujizat, ada Pendeta dan Penginjil yang berpikir mereka tidak pantas diperlakukan sebagai manusia ada umumnya. Jika diundang berkhotbah / melayani, mereka meminta pelayanan layaknya seorang selebriti: dijemput dengan mobil mewah, menginap di hotel bintang 5 dengan fasilitas “wah” dan penyambutan ala pejabat negara. Untuk itu mereka menetapkan “tarif” bernilai jutaan, puluhan bahkan ratusan juta sekali pelayanan. Bahkan ada seorang penginjil terkenal yang ke manapun pergi selalu dikelilingi oleh banyak “bodyguard” berbadan Rambo yang selalu siap membuka jalan dan memberi kenyamanan nomor wahid bagi “Sang Hamba Tuhan”. Para “Hamba Tuhan Selebriti” itu hanya bersedia diundang makan di restoran super mewah atau di hotel “5 berlian”. Makan tempe goreng di pinggir jalan seperti Jokowi? No way, tidak ada dalam kamus mereka. Gereja yang dapat mengundang mereka haruslah gereja besar minimal 500 orang dengan fasilitas “super”. Gereja kecil di gang sempit jangan harap dapat merasakan pelayanan mereka. Jawaban mereka sederhana: “Sibuk” atau “Jadwal saya sudah penuh” jika diminta melayani di gereja amigos (agak minggir got sedikit).
Sayangnya, ada juga “calon Hamba Tuhan” yang masih belajar atau baru lulus dari Sekolah Tinggi Teologi sudah “tertular virus Hamba Tuhan Selebriti” tersebut. Mereka menolak jika diminta Gembala Sidang menyapu ruangan atau membersihkan kamar mandi gereja. Mereka hanya mau melayani jika diminta berkhotbah di Kebaktian Umum hari Minggu pagi. Jika diminta untuk menaikkan doa syafaat atau membawa Firman Tuhan di Komsel akan ditolak dengan alasan orang awam pun bisa melakukannya.
Hamba Tuhan Selebriti mengidentikkan dirinya dengan jemaat yang kaya dan mewah, bukan dengan kebanyakan jemaat yang hidup menderita. Mereka hanya bersedia mengadakan pelayanan Konseling dan kunjungan pada jemaat “kelas atas”. Jemaat umumnya, biarkan staf gereja yang layani. Hamba Tuhan Selebriti ini, seperti juga Selebriti lain pada umumnya, memiliki hobi-hobi yang memakan biaya yang tidak sedikit: golf, mengkoleksi mobil mewah / motor gede dan lain-lain. Tidak ada sedikitpun rasa empati pada jemaat umumnya. Bagi mereka jemaat bukanlah domba-domba milik Tuhan yang harus dipelihara dan dilindungi dari para serigala melainkan domba-domba milik pribadi yang kapan saja bisa “diperah susunya” dan “dipotong bulunya” demi kebaikan Hamba Tuhan tersebut. “Datang untuk melayani? Bukan, justru untuk dilayani” menjadi motto mereka.
Tentu saja tidak perlu menanyakan integritas dan kejujuran para Hamba Tuhan Selebriti ini. Mereka bersedia melakukan apa saja untuk terus menikmati kemewahan dunia ini. Segala cara mereka “halalkan” sekalipun dengan label “pelayanan” atau “rohani” demi tinggal dalam kenyamanan hidup yang mereka pikir sangat pantas menjadi “upah” mereka sebagai Hamba Tuhan yang hebat dan diurapi.
Semoga tidak ada seorangpun dari kita yang memiliki Sindrom Selebriti seperti tulisan di atas. Sebaliknya, biarlah kita semua menjadi seperti Tuhan Yesus, Pemimimpin Hamba yang sederhana, merakyat dan penuh integras. Jika belum mampu meneladani Kristus, setidaknya kita dapat belajar dan meneladani seorang Jokowi. Jokowi tidak mengenal Kristus tetapi dalam beberapa ia hal justru ia telah “meneladani” Kristus. Mari kita belajar dari Jokowi: Gubernur DKI yang sederhana, merakyat dan bertintegritas. Ia datang untuk melayani, bukan untuk dilayani. Jika pemimpin DKI seperti demikian, bagaimana dengan kita sebagai Hamba-hamba Tuhan GSJA DKI Jakarta?
Selasa, 18 September 2012
Pemilihan Gubernur DKI Putaran 2: No. 1, No. 3 atau Golput
Diposting oleh
Iwan Siahaan
di
Selasa, September 18, 2012
Dalam putaran 2 ini, Jokowi - Ahok hanya didukung oleh PDIP & Partai Gerindra sedangkan Foke & Nara didukung oleh partai-partai lainnya. Mengutip perkataan Jokowi: “Ini pertarungan antara Gajah (semua partai lainnya yang mendukung Foke-Nara) dan Semut (PDIP & Partai Gerindra yang mendukungnya bersama Ahok)”. Secara matematis, sukar bagi semut untuk mengalahkan gajah. Itu sebabnya Jokowi berkata: “Kami berkoalisi dengan rakyat yang menjadi pemilih, bukan dengan partai-partai yang ada”. Yang agak unik dalam putaran pertama, empat calon yang gagal di putaran 1 seakan-akan “bersatu” menyerang Foke sebagai petahana karena dianggap tidak bekerja secara maksimal sebagai Gubernur. Tetapi dalam putaran 2, justru semua partai yang calonnya kalah di putaran 1 justru mengalihkan suara mereka kepada Foke yang dulu mereka serang sebagai Gubernur yang gagal. Aneh tapi nyata.
Menjelang putaran 2, banyak hal-hal negatif yang muncul seperti Negatif/Black Campaingn berdasarkan SARA (memilih berdasarkan kesamaan Agama, Etnis, Ras dll), tekanan /intimidasi untuk memilih pasangan tertentu, hingga cara-cara yang curang (bagi-bagi uang, tidak diberikan Kartu Pemilih kepada warga yang rumahnya terbakar hingga kartu suara yang disinyalir sudah ada coblosannya supaya suaranya menjadi tidak sah & menguntungkan pasangan tertentu). Melihat kondisi yang ada, sebagian warga Jakarta memilih untuk Golput (Golongan Putih) alias tidak mempergunakan hak suara mereka. Dalam putaran 1, ada sekitar hampir 30% warga Jakarta yang Golput. Faisal Basri, salah seorang Calon Gubernur dari jalur independen mengatakan: “Pilihan pemilih ada 3, yaitu No. 1, No. 3 atau tidak memilih kedua-duanya (alias Golput)”. Pertanyaannya, apakah tepat bagi kita sebagai orang Percaya (terutama kita sebagai warga GSJA) untuk Golput?
Dalam Yeremia 29:7 Tuhan menyuruh bangsa Israel yang ada dalam pembuangan untuk mengusahakan kesejahteraan & mendoakan kota di mana dibuang Tuhan karena kesejahteraan kota tersebut merupakan kesejahteraan penduduknya juga. Sebagai penduduk kota yang merupakan warga buangan, sangat wajar jika bangsa Israel marah kepada bangsa Babel yang menjajah mereka. Mereka berpikir tidak ada gunanya membangun kota di mana mereka dibuang karena menurut mereka Yerusalem-lah kota tempat tinggal mereka yang sebenarnya. Bertolak belakang dengan pemikiran mereka, Tuhan justru memerintahkan bangsa Israel mengusahakan kesejahteraan kota-kota di Babel di mana mereka dibuang. Alasan Tuhan sangat sederhana: Kesejahteraan kota itu adalah kesejahteraan penduduk yang ada di dalamnya, termasuk bangsa Israel yang sedang dalam masa pembuangan.
Sebagian besar orang yang Golput melakukannya karena pesimis dengan calon pemimpin yang ada. Mereka berpikir masing-masing calon memiliki kelemahan/kekurangan tertentu sehingga siapapun yang dipilih program kerjanya tidak akan berhasil dengan baik. Menyikapi hal ini, kita semua harus menyadari bahwa semua calon pemimpin adalah manusia yang tidak sempurna, tetap memiliki kelemahan tertentu. Jika menginginkan pemimpin yang sempurna, sebetulnya itu menunjukkan kelemahan/ketidaksempurnaan kita sendiri. Tidak mungkin warga yang tidak sempurna memilih pemimpin yang sempurna. Pilihlah calon pemimpin yang mempunyai kelemahan lebih sedikit dibandingkan dengan calon lainnya.
Sebagian lagi melakukan Golput karena berpikir satu suara mereka tidak akan mempengaruhi hasil pemilu. Hal ini sangat keliru. Bayangkan jika semua orang berpikir demikian, maka tidak akan ada yang memilih. Satu suara sangat bernilai dalam pemilu. Tuhan sangat peduli terhadap seorang manusia, mengapa kita justru mengganggap diri dan suara kita tidak berarti? Selain itu, dengan menetapkan pilihan dalam bilik suara, kita telah ikut ambil bagian dalam menentukan kesejahteraan kota ini. Orang-orang yang Goput sebetulnya sedang bertindak masa bodoh dengan keadaan & masa depan kota tempat mereka tinggal. Sebagai orang Percaya, kita perlu bertindak aktif dalam menentukan masa depan kota ini.
Jika demikian, bagaimana sikap yang benar yang harus kita lakukan dalam pemilihan Gubernur putaran 2 ini? Pertama, berdoalah supaya Tuhan akan menuntun kita dalam menjatuhkan pilihan pada pasangan yang tepat. Ingat, Tuhanlah yang menciptakan semua manusia sehingga IA tahu dengan pasti siapa yang tepat bagi kota Jakarta. Kedua, carilah rekam jejak (track record) masing-masing calon. Mana yang pernah berhasil sebagai pemimpin, mana yang hanya pintar memberi janji & membuat pencitraan tetapi tidak pernah berhasil. Ketiga, pelajarilah Misi, Visi & Program Kerja masing-masing calon. Lihatlah yang paling baik serta dapat diterapkan untuk memberikan solusi terhadap permasalah kota Jakarta seperti kemacetan, banjir, tingkat kejahatan yang tinggi, narkoba, sampah dll. Yang diperlukan bukan program kerja yang muluk-muluk melainkan program kerja yang baik yang dapat diretapkan dalam konteks kota Jakarta. Keempat, kenalilah lebih dalam karakter masing-masing calon. Siapa yang lebih berintegritas, jujur, pekerja keras, peduli kepada rakyat, rela berkorban (bukan rela mengorbankan) yang dipimpinnya, tidak pemarah, rendah hati (tidak sombong apalagi arogan), dapat mengayomi seluruh warga tanpa membedakan agama, ras, suku, etnis dll. Menjadi pemimpin yang baik tidak hanya membutuhkan Kualitas tetapi juga Karakter yang baik . Tidak ada gunanya seseorang pandai tetapi buruk karakternya karena ia malah akan “membodohi” masyarakat yang dipimpinya. Kelima, sewaktu telah masuk di bilik suara perhatikanlah surat suara anda. Masih polos tanpa ada bekas coblosan atau sudah “dinodai” dengan satu coblosan kecil hasil oknum tidak bertanggung jawab? Jika ada bekas coblosan, segera datangi petugas dan minta surat suara yang baru yang masih “polos”. Kemudian berdoa lalu cobloslah di gambar atau di no urut pasangan yang anda yakini dengan pimpinan Tuhan akan membawa Jakarta ke arah pembaharuan. Jangan lupa celupkan jari telunjuk kiri anda di botol tinta tanda anda telah mempergunakan hak suara anda. Terakhir, saat penghitungan di TPS anda telah berakhir, fotolah hasil penghitungan suara yang ada dan berikan kepada saksi-saksi dari pasangan yang anda dukung sebagai bukti & data otentik dalam penghitungan di tingkat yang lebih tinggi.
Mari pergunakan hak suara kita dengan bijaksana. Ingatlah, suara kita sangat berarti. Pergunakan hak suara dengan baik karena itu berarti kita telah turut menentukan kesejahteraan kota kita, Jakarta. Cobloslah dengan hati nurani yang tulus dalam pimpinan Roh Kudus. Selamat mencoblos, Tuhan Yesus memberkati kita, kota Jakarta dan pimpinan Jakarta yang Baru. (IYS)
Rabu, 12 September 2012
Kami tidak mendapat makanan rohani
Diposting oleh
Iwan Siahaan
di
Rabu, September 12, 2012
“Kami tidak mendapat makanan rohani”Dugaan saya adalah bahwa kebanyakan pemimpin gereja telah mendengar perkataan ini dikatakan di gereja mereka - biasanya saat seseorang sedang bersiap-siap untuk pergi mencari gereja yang lain. Saya tahu bahwa mendengar perkataan ini akan membuat saya perlu merefleksikan kembali efektivitas pelayanan saya. Tetapi, bagaimana caranya agar seorang pemimpin jemaat dapat memberi jawab terhadap pernyataan seperti itu?
Ada dua pertanyaan yang dapat menolong untuk menggali jawaban terhadap pernyataan di atas:
- Siapa sebenarnya yang bertanggung jawab terhadap pertumbuhan rohani?
- Apa yang diperlukan untuk mengalami pertumbuhan rohani?
Saat mendengar seseorang berkata: “Kami tidak mendapat makanan rohani”, rasanya seperti sungguh-sungguh satu tuduhan: “Engkau tidak melakukan pekerjaanmu/pelayananmu dengan baik……. karena itu kami pergi tinggalkan gereja ini.” Saat orang-orang datang ke gereja, mereka ingin bertumbuh secara rohani. Di masyarakat kita ada banyak tempat untuk menciptakan pertemanan dan banyak kegiatan yang membuat seseorang terus sibuk. Tetapi hanya gereja yang menjanjikan seseorang untuk terhubung dengan dan berjalan bersama Kristus. Hari-hari ini, orang-orang ingin mengalami Allah secara segar serta menerima bimbingan dan kekuatan dan tujuan yang berasal dari hubungan yang hidup dengan Allah. Saat seseorang datang ke gereja, mungkin saja mereka tidak mengatakannya dengan tepat, tetapi dalam tingkatan tertentu mereka sedang mencari pertolongan untuk bertumbuh secara rohani semakin dekat pada Allah. Dan ketika mereka berkata: “Kami tidak mendapat makanan rohani”, sebenarnya mereka sedang berkata: “Kami tidak bertumbuh secara rohani”.
Pemimpin jemaat umumnya tidak berhenti untuk merenung saat seseorang menuduh bahwa mereka sebagai pemimpin tidak efektif bekerja/melayani jemaat untuk melakukan panggilan mereka: menolong orang-orang bertumbuh dewasa sebagai murid Kristus. Tetapi marilah kita jujur. Dapatkah seseorang membuat orang lain bertumbuh secara rohani? Jawabannya, tentu saja adalah: “Tidak!”. Jadi, apa yang gereja dapat lakukan untuk menolong jemaatnya bertumbuh secara rohani? Menurut saya, ada empat hal:
1. Pemimpin jemaat perlu menjaga fokus utama jemaat pada pertumbuhan rohani
Hal ini tidak semudah kedengarannya. Ada banyak hal yang gereja perlu pikirkan & kerjakan yang kerap kali justru menghalangi fokus pada pertumbuhan rohani: mencari dana untuk pelayanan, memberi perhatian yang cukup pada jemaat, program kerja, perawatan fasilitas gereja, menjalankan kegiatan-kegiatan /tradisi gereja. Hal-hal baik tersebut kerap kali mengganggu fokus utama gereja: menjadikan murid-murid Kristus yang lebih banyak dan lebih baik.
Suatu kali, Gembala jemaat tempat saya beribadah berkata: “Jemaat kita akan mengalami transformasi rohani. Kita semua akan mengalami perjalanan rohani. Perjalanan rohani menyangkut respons pribadi kita pada panggilan Kristus untuk semakin dekat kepadaNya – tanpa takut, karena kita tahu IA mengasihi kita apa adanya – juga karena IA sangat mengasihi kita sehingga IA tidak akan meninggalkan kita apa adanya – agar kita belajar menjalani hidup seperti DIA saat kita bergabung denganNya untuk melayani sesama”.
Apakah hal yang paling utama dalam gereja anda adalah menolong orang-orang bertumbuh sebagai murid Kristus Yesus? Apakah ketika seseorang beberapa kali beribadah di gereja anda, mereka dapat memahami bahwa gereja anda, di atas segalanya, sungguh-sungguh komit untuk menolong orang mengalami transformasi hidup ketika hati mereka terbuka dan taat mengikuti Kristus? Apakah mereka mengetahui bahwa keinginan bahkan harapan utama pemimpin gereja-nya adalah agar orang-orang semakin maju dalam perjalanan rohani mereka?
2. Pemimpin jemaat harus menjadikan pertumbuhan rohani sebagai pusat kehidupan pribadinya
Seorang pemimpin gereja berkata: “Seberapa kecepatan seorang pemimpin, demikianlah kecepatan tim yang dipimpinnya”. Hanya jika seorang pemimpin rohani adalah orang yang dewasa rohani yang terus menerus meningkatkan kehidupan rohaninya dengan kedisiplinan, ketaatan dan sukacita pengharapan, maka jemaatnya juga dapat hidup secara demikian. Iman tidak saja diajarkan tetapi juga ditularkan. Orang-orang tidak akan berkomitmen untuk sesuatu hal yang mereka rasa tidak menjadi prioritas utama dari kehidupan para pemimpin rohani mereka.
Generasi yang lebih muda merindukan otentisitas/keaslian. Mereka bertumbuh memahami banyak hal dari media. Mereka dapat membedakan dan memahami hal-hal yang palsu. Mereka ingin sesuatu yang nyata, sesuatu yang otentik/asli. Jika mereka tidak dapat merasakan vitalitas rohani yang asli dalam diri para pemimpin, maka mereka akan mengalami kekecewaan.
3. Pemimpin jemaat perlu menyediakan jemaatnya alat/sarana yang dibutuhkan untuk mendukung dan meneguhkan perjalanan rohani mereka
Merupakan tanggung jawab dari pemimpin jemaat untuk menyediakan alat/sarana dan kesempatan yang diperlukan untuk menciptakan pertumbuhan rohani. Sebagian besar hal-hal ini bukanlah suatu misteri. Orang-orang memerlukan pengalaman yang segar bersama Tuhan di dalam penyembahan. Orang-orang memerlukan perawatan di dalam kelompok kecil. Orang-orang perlu belajar membaca Firman Tuhan dan mendengarkan suara Tuhan. Orang-orang perlu belajar bagaimana caranya agar kehidupan rohani mereka terus hidup dan bergairah setiap minggu. Orang-orang harus menemukan bagaimana Allah telah mempersiapkan mereka secara unik untuk pelayanan & bagaimana menjalankan pelayanan tersebut. Tidak ada satu paket tertentu yang dapat menolong semua orang mengalami kemajuan dalam perjalanan rohani mereka. Tiap-tiap orang berbeda; tiap-tiap generasi berbeda; tiap jemaat/gereja berbeda. Hal yang terpenting bukanlah membuat satu program sesuai tradisi/denominasi gereja, melainkan belajar dari pengalaman tradisi kekristenan, bagaimana menemukan hal-hal apa yang sangat efektif dalam konteks setempat yang dapat menolong orang-orang menjadi semakin seperti Kristus dan meneladaniNya untuk melayani Kerajaan Allah. Seorang pemimpin jemaat harus terus menerus mencari alat/sarana untuk pertumbuhan rohani yang dapat diberikan pada jemaat dan terus bertanya: “Apakah jemaat saya hidup semakin seperti Kristus?”.
4. Pemimpin jemaat perlu menolong jemaat untuk mengerti bahwa pertumbuhan rohani adalah tanggung jawab mereka sendiri. Seorang guru piano dapat memperlihatkan pada muridnya cara bermain piano & memberikannya masukan agar dapat memainkan piano dengan benar, tetapi sang guru tidak dapat berlatih untuk/menggantikan muridnya. Seorang dokter dapat mengajar pasiennya cara mengurangi berat badan, tetapi sang dokter tidak dapat berolahraga untuk pasiennya atau membuat sang pasien menjaga pola makannya. Hal yang sama berlaku dalam perjalanan rohani. Seorang Pemimpin Komsel (PKS) dapat menolong seseorang mengetahui cara membaca Firman Tuhan untuk mendengar suara Tuhan, tetapi merupakan respons orang tersebut untuk membaca Alkitab tiap hari dengan ketaatan penuh. Seorang pengkhotbah dapat dengan fasih dan kreatif menjelaskan ajaran Yesus, tetapi hanya si pendengarnya yang dapat memilih, dengan pertolongan Roh Kudus, untuk menerapkan Firman Tuhan tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Faktanya, kebanyakan gereja telah mengajar jemaatnya banyak hal melampaui tingkat ketaatan mereka.
Pada jangka panjang, keinginan para pemimpin gereja agar jemaatnya terus bergerak maju dalam perjalanan rohani mereka mengharuskan para pemimpin untuk terus mengingatkan jemaatnya, bahwa sekalipun gereja menyediakan berbagai alat/sarana untuk mereka bertumbuh, tergantung kepada masing-masing pribadi untuk bertanggung jawab atas pertumbuhan rohani mereka masing-masing dengan mempergunakan alat/sarana yang ada. Sebagai pemimpin jemaat, kita dapat mendukung, meneguhkan, mengingatkan, mengajar dan menyediakan kesempatan dan alat/sarana untuk pertumbuhan rohani, tetapi intinya adalah: kita tidak dapat menumbuhkan rohani mereka.
Diterjemahkan secara bebas & diedit seperlunya dari tulisan DR. Jeff Stiggins “We’re just not being fed spiritually”. Artikel asli dapat dilihat di: http://ctblog.flumc.org/?p=71
Kamis, 10 Mei 2012
TUNAIKANLAH TUGAS PELAYANANMU
Diposting oleh
Iwan Siahaan
di
Kamis, Mei 10, 2012
Allah menciptakan segala sesuatu di dunia ini dengan tujuannya masing-masing.
Saat manusia diciptakan, Allah punya rencana & tujuan yang jelas baginya. Sayang sekali, tujuan & rencana Allah tersebut rusak karena manusia jatuh dalam dosa. Manusia terpisah dari Allah, Sang Pencipta, dan manusia tidak lagi hidup bukan untuk Allah & tujuan-Nya melainkan bagi dirinya sendiri. Kelihatannya menyenangkan, tetapi akhir hidupnya adalah kebinasaan belaka.
Syukur karena Allah yang begitu mengasihi manusia. Putra-Nya, Yesus Kristus, dikirim ke dunia menjelma menjadi manusia, mati di kayu salib menebus dosa, bangkit & kembali ke Sorga serta suatu saat akan datang kembali. Di dalam Yesus, rencana & tujuan Allah bagi manusia dipulihkan. Manusia yang percaya pada-Nya hidup bagi-Nya.
Menjadi orang Percaya adalah menjadi orang yang melayani. Pengorbanan Yesus yang telah menyerahkan diri-Nya mati demi keselamatan manusia berdosa adalah dasar pelayanan orang Percaya bagi dunia ini (Yohanes 3:16). Tidak hanya itu, sebagaimana Yesus telah berkorban bagi dunia demikianlah kita diminta Tuhan untuk meneladani bahkan berkorban bagi orang-orang yang kita layani (I Yohanes 3:16). Kita melayani bukan untuk menerima melainkan untuk memberi. Sebagai orang Percaya kita dipanggil Tuhan untuk melayani, bukan untuk dilayani.
Kerinduan hati Tuhan adalah supaya setiap orang bertobat, percaya kepada Yesus Kristus & diselamatkan. Inilah Misi Tuhan bagi dunia yang harus kita kerjakan. Untuk itu, pertama-tama kita perlu berdoa bagi dunia. Berdoa bagi orang-orang yang belum percaya dimulai dari keluarga & lingkungan kita sendiri. Berdoalah agar mereka dapat mengalami Kasih Tuhan yang menyelamatkan. Berdoalah agar sebagai orang Percaya, Kasih Kristus senantiasa ada dalam kita & dapat kita bagikan kepada sesama manusia. Berdoalah agar Tuhan mengurapi kita menjadi pribadi yang memberitakan Kabar Baik kepada orang-orang yang terhilang dalam dosa. Berdoalah agar Kerajaan Allah datang & Kehendak Tuhan jadi di dunia ini.
Doa tidak akan berarti tanpa perbuatan. Jalinlah persahabatan dengan orang-orang yang membutuhkan Kasih Kristus. Jadilah terang & teladan hidup bagi mereka. Datangilah & saksikanlah Kasih Tuhan yang telah kita alami. Beritakanlah bahwa keselamatan hanya ada di dalam Tuhan Yesus Kristus karena DIA adalah satu-satunya jalan kepada Bapa Surgawi.
Doa yang terus menerus & usaha yang tak kenal lelah harus disertai dengan kerelaan memberi dana agar tujuan Allah benar-benar tergenapi. Tidak dapat disangkal, semua pelayanan membutuhkan biaya. Kita diberkati Tuhan untuk menjadi berkat bagi pelayanan & sesama melalui pemberian dana yang kita lakukan. Jika ingin melihat orang-orang diselamatkan maka kita perlu membayar harganya, yaitu: DOA, DAYA & DANA.
Kamp Auschwitz adalah tempat pembantaian jutaan jiwa orang Yahudi oleh tentara NAZI Jerman. Sudah menjadi kebiasaan di Kamp tersebut jika ada 1 orang tawanan melarikan diri maka sebagai akibatnya 10 orang dari tawanan yang ada akan dipilih secara acak & dihukum mati ganti orang yang kabur tersebut. Satu kali seorang tawanan kabur & tentara memilih orang-orang yang akan dihukum mati. Orang yang ke-10 terpilih adalah Franciszek Gajowniczek . Franciszek kemudian menangis tersedu-sedu sambil menyebut-nyebut istri & anak-anaknya. Tiba-tiba dari belakang barisan seorang berlari ke dapan sambil meminta ijin bicara kepada Komandan Pasukan. Setelah diberikan ijin bicara pria ini menyampaikan permohonan agar dirinya diberikan kesempatan menanggung hukuman mati ganti pria yang menangis tadi. Pria ini beralasan bahwa ia tidak memiliki keluarga sedangkan pria yang hendak digantikannya memiliki istri & anak-anak. Ia siap mati demi orang ke-10 tadi. Komandan pasukan akhirnya menyetujui & jadilah pria ini yang masuk kelompok orang-orang yang akan dihukum mati. Nama pria ini adalah Maximilian Kolbe, seorang Biarawan. 14 Agustus 1941 adalah hari kematian Kolbe. Uniknya, Franciszek akhirnya lolos dari kematian di Kamp Auschwitz saat Perang Dunia II berakhir & dapat bertemu dengan istri serta anak-anaknya dalam keadaan selamat. Tetapi keselamatannya hanya dapat terjadi karena ada seorang Maximilian Kolbe yang bersedia mati menggantikan dirinya. Setiap tanggal 14 Agustus Franciszek Gajowniczek & keluarga datang ke bekas Kamp Auschwitz untuk memperingati kasih & pengorbanan Kolbe baginya.
Franciszek adalah gambaran kehidupan kita dulu yang harus dihukum mati karena dosa-dosa. Kolbe adalah gambaran Kristus yang bersedia mati menggantikan kita. Saat kita telah menerima Kasih Kristus, sekarang Tuhan memanggil kita untuk menjadi “Kolbe-kolbe” yang rela berkorban bagi orang-orang lainnya yang masih terhilang dalam dosa. Inilah panggilan Tuhan bagi kita.
Tunaikanlah tugas pelayananmu ! (II Timotius 4:5)
Saat manusia diciptakan, Allah punya rencana & tujuan yang jelas baginya. Sayang sekali, tujuan & rencana Allah tersebut rusak karena manusia jatuh dalam dosa. Manusia terpisah dari Allah, Sang Pencipta, dan manusia tidak lagi hidup bukan untuk Allah & tujuan-Nya melainkan bagi dirinya sendiri. Kelihatannya menyenangkan, tetapi akhir hidupnya adalah kebinasaan belaka.
Syukur karena Allah yang begitu mengasihi manusia. Putra-Nya, Yesus Kristus, dikirim ke dunia menjelma menjadi manusia, mati di kayu salib menebus dosa, bangkit & kembali ke Sorga serta suatu saat akan datang kembali. Di dalam Yesus, rencana & tujuan Allah bagi manusia dipulihkan. Manusia yang percaya pada-Nya hidup bagi-Nya.
Menjadi orang Percaya adalah menjadi orang yang melayani. Pengorbanan Yesus yang telah menyerahkan diri-Nya mati demi keselamatan manusia berdosa adalah dasar pelayanan orang Percaya bagi dunia ini (Yohanes 3:16). Tidak hanya itu, sebagaimana Yesus telah berkorban bagi dunia demikianlah kita diminta Tuhan untuk meneladani bahkan berkorban bagi orang-orang yang kita layani (I Yohanes 3:16). Kita melayani bukan untuk menerima melainkan untuk memberi. Sebagai orang Percaya kita dipanggil Tuhan untuk melayani, bukan untuk dilayani.
Kerinduan hati Tuhan adalah supaya setiap orang bertobat, percaya kepada Yesus Kristus & diselamatkan. Inilah Misi Tuhan bagi dunia yang harus kita kerjakan. Untuk itu, pertama-tama kita perlu berdoa bagi dunia. Berdoa bagi orang-orang yang belum percaya dimulai dari keluarga & lingkungan kita sendiri. Berdoalah agar mereka dapat mengalami Kasih Tuhan yang menyelamatkan. Berdoalah agar sebagai orang Percaya, Kasih Kristus senantiasa ada dalam kita & dapat kita bagikan kepada sesama manusia. Berdoalah agar Tuhan mengurapi kita menjadi pribadi yang memberitakan Kabar Baik kepada orang-orang yang terhilang dalam dosa. Berdoalah agar Kerajaan Allah datang & Kehendak Tuhan jadi di dunia ini.
Doa tidak akan berarti tanpa perbuatan. Jalinlah persahabatan dengan orang-orang yang membutuhkan Kasih Kristus. Jadilah terang & teladan hidup bagi mereka. Datangilah & saksikanlah Kasih Tuhan yang telah kita alami. Beritakanlah bahwa keselamatan hanya ada di dalam Tuhan Yesus Kristus karena DIA adalah satu-satunya jalan kepada Bapa Surgawi.
Doa yang terus menerus & usaha yang tak kenal lelah harus disertai dengan kerelaan memberi dana agar tujuan Allah benar-benar tergenapi. Tidak dapat disangkal, semua pelayanan membutuhkan biaya. Kita diberkati Tuhan untuk menjadi berkat bagi pelayanan & sesama melalui pemberian dana yang kita lakukan. Jika ingin melihat orang-orang diselamatkan maka kita perlu membayar harganya, yaitu: DOA, DAYA & DANA.
Kamp Auschwitz adalah tempat pembantaian jutaan jiwa orang Yahudi oleh tentara NAZI Jerman. Sudah menjadi kebiasaan di Kamp tersebut jika ada 1 orang tawanan melarikan diri maka sebagai akibatnya 10 orang dari tawanan yang ada akan dipilih secara acak & dihukum mati ganti orang yang kabur tersebut. Satu kali seorang tawanan kabur & tentara memilih orang-orang yang akan dihukum mati. Orang yang ke-10 terpilih adalah Franciszek Gajowniczek . Franciszek kemudian menangis tersedu-sedu sambil menyebut-nyebut istri & anak-anaknya. Tiba-tiba dari belakang barisan seorang berlari ke dapan sambil meminta ijin bicara kepada Komandan Pasukan. Setelah diberikan ijin bicara pria ini menyampaikan permohonan agar dirinya diberikan kesempatan menanggung hukuman mati ganti pria yang menangis tadi. Pria ini beralasan bahwa ia tidak memiliki keluarga sedangkan pria yang hendak digantikannya memiliki istri & anak-anak. Ia siap mati demi orang ke-10 tadi. Komandan pasukan akhirnya menyetujui & jadilah pria ini yang masuk kelompok orang-orang yang akan dihukum mati. Nama pria ini adalah Maximilian Kolbe, seorang Biarawan. 14 Agustus 1941 adalah hari kematian Kolbe. Uniknya, Franciszek akhirnya lolos dari kematian di Kamp Auschwitz saat Perang Dunia II berakhir & dapat bertemu dengan istri serta anak-anaknya dalam keadaan selamat. Tetapi keselamatannya hanya dapat terjadi karena ada seorang Maximilian Kolbe yang bersedia mati menggantikan dirinya. Setiap tanggal 14 Agustus Franciszek Gajowniczek & keluarga datang ke bekas Kamp Auschwitz untuk memperingati kasih & pengorbanan Kolbe baginya.
Franciszek adalah gambaran kehidupan kita dulu yang harus dihukum mati karena dosa-dosa. Kolbe adalah gambaran Kristus yang bersedia mati menggantikan kita. Saat kita telah menerima Kasih Kristus, sekarang Tuhan memanggil kita untuk menjadi “Kolbe-kolbe” yang rela berkorban bagi orang-orang lainnya yang masih terhilang dalam dosa. Inilah panggilan Tuhan bagi kita.
Tunaikanlah tugas pelayananmu ! (II Timotius 4:5)
Penulis: Pdt. Iwan Siahaan, MA
Sumber: http://www.gsjadki.org/2012/05/tunaikanlah-tugas-pelayananmu.html
![]() |
| Pdt. Iwan Siahaan, MA | gsjadki.org |
Sumber: http://www.gsjadki.org/2012/05/tunaikanlah-tugas-pelayananmu.html
Langganan:
Postingan (Atom)
BPD Peduli Banjir
Banjir di Jakarta
MISI, VISI, STRATEGI & NILAI BPD GS...
Selamat Tahun Baru
Selamat Hari Natal 25 Desember 2012
JOKOWI: PEMIMPIN YANG MERAKYAT
Berita Duka Cita
Laporan Kunjungan Komisaris BPD dan...
JADWAL & MATERI MATRIKS TRAINING GS...
BPD Peduli Banjir
Doakan Pdt. Fadjar Pramowardhana
Doakan Pdt. Filiyanti



